Sunday, 27 September 2015

REVIEW SADIS SELF/LESS

Halo brosis gue yang gantengnya kayak Ryan Reynold balik lagi, kemaren gue udah nonton Everest dan gue merasakan sebuah perasaan hati tergoyahkan tidak bisa berkata kata karena film ini penuh bahan celaan yang tidak bisa dicelakan karena berdasarkan sebuah TRUE STORY ehm ehm SHIT. okay let it be gone *teriak ala Maleficient*. gue mau review sebuah film yang akhirnya bisa gue cela dengan sepenuh hati menarik semua kebaikan agar terjadi celaan maha dahsyat..... soo this is it,


entah kenapa gue mau banget duduk anteng disamping kakak gue yang cerewetnya minta ampun dan harus memeras otak menonton film yang bahkan judulnya saja membuat saya mati kutu membuka google untuk mecari apa fungsi dari sebuah tanda " / " apa sih fungsinya??? jujur aja gue agak gimana pas liat judulnya. yang bikin gue mikir what the true meaning of SELF / LESS it self. shit i write it twice. menurut 3 web yang gue kunjungi, garis miring " / " ini berarti sebuah penghubung dan tidak dianjur kan menggunakan sebagai "Atau"

DARI WEB

DARI WIKIPEDIA

DARI WEB


Sebenernya I dont give a SHIT ya buat judulnya, cuman hati gue tergelitik buat mencari tau apa fungsi dari tanda garis miring itu sendiri dan gue kewalahan. seharusnya Selfless saja sudah mengartikan bahwa maksud dari kata itu adalah "BUKAN DIRINYA SENDIRI" lalu kenapa? kenapa harus ada garis miring di judulnya, setelah gue tonton filmnya, gue sadar....... difilm ini ada satu tubuh yang diisi dua orang, SELF yang meaning diri sendiri, dan SELFLESS bukan dirinya sendiri. alih alih menulis SELF/SELFLESS yang merujuk pada maksud "Saya dan Bukan Diri Saya" yang begitu rumit dan ambigu, maka diwujudkanlah kata baru SELF/LESS that make any little sense. but SHIT still be a SHIT when it come to an any sin, buat gue penggunaan judul yang WAGU ini menjadi celaan utama dari apa yang bahkan filmnya belum berjalan.

Diawal film kita disuguhi kekayaan seorang DAMIAN yap karater utama yang sebenarnya bukan karakter utama. *Mikir Keras* oke gue garis bawahi dulu, karakter utama adalah Damian, tapi pemeran utamanya bukan yang jadi Damian, mmmmphhh.... jadi actor yang memerankan Damian bukanlah pemeran utama melainkan cuma sampingan meskipun akhirnya damianlah peran utamanya.. aduh.. tiba2 Goblok.

intinya pemeran Damian saat masih tua, yang belum di transfer memory bukanlah peran utama. setelah dimainkan oleh Ryan Reynold, ya saya tau... saya... saya ganteng banget >> SKIP. setelah karakter Damian ditransfer di tubuh baru yaitu Ryan Reynold barulah dia menjadi karakter utama. aduh blibet bgt gue. langsung aja.

20 menit pertama film ini menyuguhkan begitu banyak keboringan yang sama sekali doesnt make any sense to the main story, seolah2 cuman buat "genep2" kalo bahasa jawanya. intinya ngisi waktulah. barulah setelah masuk ke main storynya si Damian ini dibawa ke Lab untuk di Stitch, istilahnya dipindah memorinya ke tubuh yang lebih muda, dan di point ini kejanggalan dan ke-LOW BUDGET-an muncul.
konsep yang dibangun disini adalah sebuah mesin pemindah pemikiran ke tubuh baru yang di premis awalnya hanya diceritakan sebagai TUBUH GENETIKA REKAYASA yang dibuat untuk pemindahan ingatan saja. gue sempet mikir harusnya fasilitasnya mengharuskan penggunanya masih BANGET kudu chop in banyak kabel ke kepala dan mentransfer ingatan melalui panel panel kabel ini... bahkan untuk konsep after colliding the world, macam Matrix, neo harus nancepin jarum segedhe gaban ke otaknya. nah ini... disini yang terkesan masih abad 20 yang segalanya masih biasa2 aja digambarkan pemindahan hanyalah seolah2 orang masuk ke mesin cuci, cuman pala doang, mesin muter2 ga jelas, trus program berhasil. let I said, WHAT DA FUQ I JUST WATCH


gue ga tau sih konsep cerebro.. atau otak gitu, yang gue tau mah otak2 celup. tapi buat orang yang terlampau cerdas dalam menganalisa film *halah* gue kok merasa dibodohi.

di mainstorynya disini ternyata Damian tidaklah damian saja, doi ternyata tidak juga REBORN di tubuh genetika rekayasa, melainkan hidup di tubuh orang lain yang ternyata masih hidup, DAFUQ, another doesnt make any sense thing. gue sampe sini udah kewalahan mikir keras. ternyata orang lain yang tubuhnya diisi pikiran Damian ini sewaktu waktu bisa memberontak keluar kalo Damian ga minum pil, kok semacam Ehm, THE HOST nya si vampire2an Stephanie Meyers itu ya.. oke SKIP>>

yang gue suka dari film ini meskipun premis yang dibangun runtuh seketika dengan kegagalan plot, gue suka banget pada kenyataan Damian ga mau kehilangan dirinya, dia ga mau kalah dengan the other side yang tidak salah dan tidak bukan adalah si pemilik tubuh itu sendiri. keinginan ingin survive ini jempolan banget dan terlihat real, *sial gue memuji* oke kembali mencela...

dihadapkan dengan keingian survive dan keingintahuannnya tentang pemilik tubuh Damian harus membuka sebuah luka yang sebenarnya ga perlu, ketika bertemu dengan Istri dan anak si pemilik tubuh ini Damian merasa Iba, dan dengan ini dia harus dikejar kejar dengan para Scientist yang jelas jelas melarang Damian untuk mencari tahu memori yang tidak real itu, dan mulailah kejar kejar non intelektual ala2 film bodon

kita ambil kesimpulan singkat, jika kalian bisa melakukan hal ajaib seperti mentransfer pikiran ke tubuh orang lain, dibutuhkan berapa lama untuk mecari orang yang tidak lebih pintar dari kalian?? kalian punya alat mutakhir tapi otak kalian ga mutakhir, kalian bodoh sekali para scientist.. *standing applause di bioskop*

sesi kejar2an umpet2an ini berlangsung lama banget, dan gue sampe bosen, dan sampe pada akhirnya berakhir pada Damian malah nyari tau dimana Labnya si Scientist ini karna emang ga dikasih tau diawal dimana tempatnya, dan pleaseeeeeeeeeee masa gue kudu nulis ulang? bentar gue kopi paste dulu tulisan diatas diganti dikit.

kita ambil kesimpulan singkat, jika kalian bisa melakukan hal ajaib seperti mentransfer pikiran ke tubuh orang lain, dibutuhkan berapa banyak keamanan di Lab kalian untuk berjaga2 fasilitas kalian disusupi orang?? kalian punya alat mutakhir tapi otak kalian ga mutakhir, kalian bodoh sekali para scientist.. *standing applause di bioskop 2x*

yap Damian berhasil masuk fasilitasnya, dan ngobrak ngabrik tempatnya dan membumi hanguskan si ilmuan ini... sehingga hidupnya tidak lagi dikejar kejar. dan gue pikir sampe sini gue bakal berhenti mencela, karna sudah mau habis filmnya, tapi......

diakhir film Damian dan Istri dan anak si pemilik tubuh yang dipake Damian ini berpisah dengan damai, dan gue seneng banget, karna ini realistis banget.... Damian ga berusaha menye menyerahkan tubuhnya agar kembali ke sipemilik tubuh asli. Damian ingin Survive, Damian ingin Hidup... realistis sekali, oke gue singgung dulu bentar tentang realistis.

Misal kamu orang kaya dan kamu bisa hidup lagi, tapi ternyata kamu harus hidup ditubuh orang lain yang masih hidup, akankah kamu merelakan dirimu mati demi orang yang kamu pakai tubuhnya hidup?? kita bicara realistis, kalo gue ENGGAK. gue ga bicara tentang hati mulia atau gimana2, gue pengen survive.

tapi hal yang bikin gue sedih karena ke-happy-an gue direnggut, diakhir film akhirnya Damian ngga minum obatnya, dia menyiksa dirinya sendiri sedikit demi sedikit ingatannya memudar... dan balik ke si pemilik tubuh aslinya.... anjing banget bagian ini dah. kesan realistisnya hilang cuma karna pengen membuat film ini menuju kesan Drama-ish... dan Happy Ending, bukannya gue ga suka happy ending, tapi film ini udh membangun sebuah istana runtuh, dan ketika diakhir dia bisa menciptakan sebuah kastil epik, mereka meruntuhkannya lagi.

untuk sebuah film action dengan bumbu romance jangan harap deh akhirnya bakal more realistik. so gue agak ga suka sama ending SELF/LESS ini. dan ini rekor gue ga ngomong ANJING sama sekali pas ngereview padahal tagline gue SADIS.

bagaimana menurut kalian???










Posted on by Gavindra Pradhata | No comments

Saturday, 12 September 2015

REVIEW MAZE RUNNER : SCROCH TRIAL

Gue ngga tau harus mulai dari mana, been a long time ya fellas...
keinginan gue buat ngeblog sebenernya udah tersapu liu oleh kesibukan gue di dunia nyata,
sorry to say that Im a real person and doin something real in the real world, so jadi ya waktu gue buat ngeblog kadang ga ada hampir mendekati NIHIL. kemaren gue dapet LINE dari annon. yang bilang doi suka sama review geblek gue... gue aja kadang mikir kok gue geblek banget nulisnya. dan its work. someone out there terbodohi dan terperangkap untuk membaca review gue yang tercela ini. SKIP
intinya ya gue tryna back to the game ya.

kali ini gue nonton Maze Runner 2 Scroch Trial. sebenernya gue kemaren udah nonton beberapa film, tapi entah kenapa hasrat ingin mencela film ini terlalu tinggi sehingga gue ga mampu lagi menahan diri untuk memilah dan memilih mana yang akan di review. so aku putuskan untuk mereview Scroch Trial.

kita kesampingkan dulu bahwa film ini adalah based on *uhuk* novel, which is punya nilai jual tinggi karena best seller. gue sih bodo amat, film ini seakan memaksa gue untuk melakukan super skip film Maze Runner dulu sebelum review Scroch Trial, karna gue butuh nyari kesalahan dan yap, gue nemu hal ga sinkron yang muncul di Maze Runner ke Scroch Trial. dan gue mencoba menelaah film ini lewat kacamata orang awam dan orang yang belum pernah baca bukunya so jadi ya this is it. enjoy the review.


Gue ga suka, yap gue ga suka pake banget, masih ingetin lagi gue terhadap poster Maze Runner yang pertama yang somehow keren banget. di film kedua ini somehow posternya seolah terkesan murahan asal tempel, apalagi cuma menempatkan slot 4 orang di depan which is the main character dan para pendukungnya, seolah2 merasa tidak adil gue menganggap hal ini kurang menguntungkan buat side karakter yang lainnya dan FYI adegan anak2 nyebrangin jembatan gedung runtuh itu ga ada di FILM sama skali. Shit. total epic fail.

di menit menit awal gue udah kudu ngitung beberapa orang yang keluar dari helipad. eh helikopter. di Maze Runner kita ngeliat setidaknya ada 9 orang termasuk samanta eh renata, eh siapa ya cewek itu namanya lupa. bodo amat. itu pokoknya. dan pas adegan pertama mereka turun dari heli cuma ada 6 orang. kemana yang dua lagi?


gambar ini gue skrinsuit dari film pertama yang berarti mereka semua aman dan tentram kecuali Chuck.. Poor Chuck.
9 anak ini-yang satu ga keliatan-seharusnya selamat karna seinget gue semuanya masuk ke Heli kecuali Chuck ya.. inget Chuck udah koit. gue rasa ini semacam ketidaksinambungan antara film 1 dan 2 dan gue ga bisa maafin ini. oke sampe sini gue belum bisa nemu bahan celaan selain beberapa Glider yang tiba-tiba cling ngilang dari set.

fasilitas WCKD ini kan udah kayaknya super ya mereka bisa bikin banyak banget penemuan dan fasilitas mereka udah semacam futuristik, tetapi hasrat ingin mencela gue tiba2 meledak ledak pas Aris tiba2 muncul di Dorm Thomas lewat ventilator. Really WICKED???? REALLY??? seakan mengambil cara bodon untuk membodohi penonton, Hollywood satu-satunya produsen film yang slalu BODON dalam hal Spying bagaimana tidak hampir semua film bule berhasil lolos, mencuri, melarikan diri lewat ventilasi, seolah-olah ventilasi disana memang disediakan untuk hal hal seperti ituhh *ala syahrini*. KAAAN GOBLOK. setidaknya ada Infrared yang disematkan dalam ventilator untuk menghentikan hal2 seperti yang dilakukan Aris dan Thomas.

untuk sebuah tempat yang mumpuni ini- meskipun gue ga pro WICKED, gue merasa WICKED ini kok kelampau goblok di setiap Scene bahkan sampe bubar filmnya. gimana enggak, yang pertama, pas Thomas berhasil nyuri kartu buat masuk ke ruang yang kayaknya super classifield. kok ya mudah2 aja, untuk hal yang sangat berguna untuk keamanan, seharusnya dalam waktu setiap menit kartu kunci yang dimiliki Guard itu slalu digunakan, kok bisa-bisanya Ilang lama dan ga nyadar, kan kelewat Bodon itu penjaganya.

Lanjut saat finally mereka bisa melarikan diri-yap mereka berhasil kabur-beberapa Guard mencoba mengejar menggunakan kendaraan dan ga ketemu, padahal mereka cuma jalan kaki dan para guard naik mototrax, seolah olah penjaga ini kok digambarkan sangat bloon, apagunanya Night Vision, apa gunanya Infra Red, apa Gunanya Thermosignal kalo kalian ga bisa nyari bocah ingusan yang jalan sempoyongan di gurun pasir, gurun pasir hlo ini bukan kota dimana mereka bisa ngumpet. ini gurun pasir, geblek. dan mereka untuk kedua kalinya berhasil lolos. GOBLOK.

skip ke mid-end cerita karena mereka slalu akhirnya berhasil lolos terus dan terus dan bikin gue jera ngomong goblok berkali2. menjelang pertengahan akhir cerita Thomas dan teman2nya udah berhasil nemuin Right Arm ini yang akhirnya ternyata cuma sekelompok rebel terhadap WICKED yang ga punya fasilitas super mumpuni?!!!! SHIT! gue ngedumel sendiri, WICKED harusnya bisa membumi hanguskan Right Arm ini karna menurut gue WICKED ini udah beyond everything peralatannya dan ya AMPUUUUUUUN PLIS, ini gue sampe ga sanggup melakukan sumpah serapah karna disini gue merasa dibodohi sama a whole main story-nya. seolah2 karna Thomas is a main Char disini, dia mendapat Excuse buat selalu lolos dari apapun itu, KAN ANJING....

kesimpulan, sih film ini buat orang awam is Good, but Worst buat orang Nalar. karna ini film diluar Nalar, sebenernya lolos sih boleh asalkan menggunakan perjuangan super berdarah darah dan terluka luka super parah dan ga cuma dengan excuse mereka lolos terus begitu aja, musuhnya nih orang pinter inteligent tinggi hlo? dan all the stuff they have is beyond everything. jadi semacam goblok kan  kalo Thomas dan teman2nya seolah2 bisa lolos terus menerus??

WDYT?
kalo gue sih cukup menikmati Filmnya karna ini keren banget Setting worldbuilding-nya, FX dan Emosional para aktornya yang dapet banget, tapi untuk segi cerita yang bodon, semua ke-epic-an film ini semacam sirna begitu saja.
Posted on by Gavindra Pradhata | 1 comment

Monday, 20 January 2014

Tahap Tahap Gue Mencela Suatu Film.

Kronologis pencelaan suatu film
Buat yang dulu dulu bgt udah pernah gue singgung tahap tahap dari gue yang ganteng mirip chris hemsworth mencela suatu film. Gue mencela suatu film juga ga asal cela men, gue pake teknik dan ilmu kebatinan yang luar biasa dalamnya seluas samudra—halah—
Okey langsung aja Karena beberapa hari ini belum ada film yang bisa gue cela, karena akhir2 ini gue disibukkan dengan dunia perkuliahan dan tugas tugas ga jelas, gue belum sempat menitikkan target film baru yang akan gue cela. So. Ya gue bakal ngasih ilmu ke-soktahuan gue tentang tahap tahap pencelaan.

Poster.
Biasanya gue mulai dari poster. Seberapa tercela-nya suatu poster ya tergantung dengan keren engganya si designer membuat poster, ingat kebiasaan orang jaman sekarang macam kalian kan Judge Movies by the POSTER. Buat orang awan atau orang yang males malesan buka internet untuk sekedar ngeliat synopsis atau trailer cerita, Poster udah cukup menyuguhkan gambaran dari seluruh film. So. Kalo posternya jelek ya siap siap aja penonton berkurang. Dan siap siap aja mendapat celaan teramat dahsyat dari gue.

Naskah Cerita
Jangan salahkan gue jika gue sering sekali ngedumel mencela Naskah/Isi cerita yang kadang ga masuk akal, ini emang inti dari segala sesuatu dimana gue nonton film. Abaikan Poster yang epic menggebu gebu penuh gambaran keren disana sini, abaikan Durasi yang hampir 2 jam lebih. Semua ga ada guna kalau naskah cerita yang ada didalamnya BO to the RING. Ingatkan kembali baru beberapa minggu yang lalu gue nonton 47 Ronin. Liat posternya, Liat durasinya, Semua ga guna kalo ceritanya ga menopang dari segala aspek, bayangkan kalau tidak ada Keanu reeves disana. Apa jadinya film itu?

Durasi.
Nah ini ni biasanya yang suka banget bikin gue mencela suatu film. Dimana film terlalu bagus tetapi durasi Cuma sedikit, atau film ga masuk akal ga jelas tapi durasi terlalu lama. Pencelaannya biasanya Cuma terkait bagian itu itu aja sih. Film paling TOP BGT menurut gue Cuma LOTR dimana Durasi yahud. Dan Isi Film sangat Yahud. Jadi berkesinambungan, durasi yang lama 3 jam lebih itu ga bikin gue boring duduk di kursi bioskop.


Cast
Sama Halnya dengan crew crew di Hollywood yang merasa cast actor dan actress-nya sudah tepat. Kita penikmat film juga punya imajinasi sendiri tentang pemeran yang seharusnya cocok. Untuk sebuah film entah itu film dari naskah atau film dari adaptasi novel. Jadi teringat lagi saat menonton The Mortal Instrument : City of Bones ketidak cocokan karakter Jace Wayland yang diperankan actor Jamie Campbell Bower. Membuat nuansa dark para shadow hunter ini berkurang kharismanya. Jamie boleh terlihat menjadi sosok Caius yang mengerikan di Twilight saga atau menjadi Gellert Grindellwald yang misterius di Harry Potter. Tp buat karakter Jace wayland yang notabene seorang shadow walker yang maskulin dan kick-ass gue rasa tubuh kerempengnya membuyarkan semuanya.

Teknik Pengambilan Gambar
Ga dipungkri orang orang Hollywood sana emang paling jago ngambil angle angle yang pas, BUT tetep aja gue mencari cari kesalahan dimana gue kudu mencela setiap adegan yang menurut gue patut dicela. seperti halnya kejadian di Film yang baru saja gue tonton kemarin macam PA dan DD yang menggunakan teknik pengambilan gambar lost fotage atau Smooth fotage. menurut gue kedua film tersebut adalah film tercela sepanjang masa versi gue.

Sunday, 19 January 2014

REVIEW GANAS FILM DEVIL'S DUE


Seperti yang udah gue gamblangin di twitter pagi tadi.  Hari ini gue bakalan mulai review film lagi setelah vacuum tak berujung dan terpanggil hasrat dan niat jahatku untuk mencela sebuah film berdasarkan ke-soktahu-anku yang bersekolah di bidang perfilman membangunkanku dari tidur panjangku menjadi penikmat film yang hidup dalam kepura puraan tidak tahu apa apa –Halah-
Baru beberapa hari yang lalu gue berniat nonton Jack Ryan yang notabene udah gue tunggu tunggu filmnya, dan berhasil terpeleset dijurang kenistaan karena saat beli tiket bertemu dengan teman lama yang kemudian mengajakku menonton film penuh dramatisir kehidupan fatamorgana –Halah-
Langsung aja daripada bertele tele, diriku sudah horny dan terangsang amat sangat ingin mencela film ini. YAP---- Thx to dimas finaly akhirnya gue jadinya nonton DEVIL’S DUE.

Liat posternya udah horror horror gimana gitu gue jadi berasa mungkin ini film horror 4 dari 5 bintang. Dibuka dengan cerita yang sok dihoror hororkan tapi udah ketebak kalo itu ngga horror. Blending cerita dan konklusi yang diberikan memberikan kesan pertama udah seperti – what the fuck! I know from the beginning it’s not a fuckin ghost or some creature with ugly face – gue mulai rada jenuh disini.

Selanjutnya karena bagian ini akan penuh dengan Spoiler to the max, gue ga menyarankan buat yang belum nonton buat baca. Tapi ya terserah sih.. mata juga mata elo, itu leptop yg lo pantengin jg punya lo.

Dari awal di blog gue yang rusak gue udah pernah bilang sih film film horror ala ala paranormal activity dan teman temannya gue kurang suka. Bukan dari segi cerita –meskipun kadang iya— tapi gue lebih ga suka dari cara pengambilan gambar. Untuk film horror kelas menengah kebawah dengan budget yang cukup dengan minta duit ortu aja tanpa perlu sponsor. Tipe pengambilan gambar menggunakan lose footage kalo menurut orng awam hal kayak gini untuk menambahkan kesan real karena pemain adalah person of view dari kameranya sendiri bercerita tentang kehidupannya sendiri. Guys. Please. Apa kalian ga pusing ngeliat tu kamera goyang goyang kadang ngeblur kadang ga fokus entah kemana arahnya. Menurut gue film tipe gini udah ngrusak seluruh makul gue tentang tata cara pengambilan gambar menggunakan sudut angle camera yang baik dan benar.
Tanpa basa basi langsung aja gue cela dulu film ini, diawal film diceritakan seorang cowok zach dan tunangannya Sam yang akhirnya menikah berlibur ke sebuah pulau atau Negara gue lupa. Disana dia berniat bulan madu dan malah terjebak oleh supir taksi yang mengajak ke sebuah sekte antikristus yang berkedok klab malam. Oke dari sini gue mau cela dulu beberapa non-sinkron dan gagasan tak masuk akal dari penulisan naskahnya. Istilah sotoy-nya blank story. Bagaimana bisa missal, elo sama istri lo liburan di sebuah pulau apa desa tau tau ada sopir serem sok kenal dan elo gak tau bahasa yg dia omongin dan elo iya iya aja diajak itu orang ke sebuah klab berbau mistis? –Blank Story— kalo penulis film ini kuliah di kampus gue, mungkin udah dapet nilai C+ masuknya ke non-sense story.
Selanjutnya setelah kejadian itu kita akan diajak ke –BORINGEST PART EVER—dari semua film boring yang pernah gue tonton. Kira kira pertengahan film ini kalo langsung di cut-of ke 20 menit terakhir juga bisa. Gue sampe kehabisan kata kata untuk mencela bagian tengah cerita yang suppose to be a main story. Bagaimana tidak? Tengah2 cerita ini harusnya penuh ketegangan gue nontonya Cuma nyengir sambil bbm-an sama cewek gue. Gue berasa di suguhi kegoblokkan tiada henti sama halnya waktu gue nonton paranormal activity the marked one. Okay… okay… tidak perlu dibahas bagian tengah cerita, mari kita cela ending cerita.
Tapi sedikit mencela beberapa scene di tengah cerita, selidik punya selidik si Sam ini Hamilll!!!! Whoaaaaaa congratulation Bitch, lo udah buat gue bertanya Tanya. Ga ada scene ML diawal. Ga ada tanda tanda yang meyakinkan gue bahwa elo udah di ML-in sama si Zach dan tau tau elo hamil. Kontradiksi yang ingin diciptakan penulis scenario disini adalah bahwa anak Sam ini anaknya Zach apa anaknya Iblis gitu kan? Tapi tanpa perlu penjelasan yg lebih gamblang gue langsung ngejudge dengan segenap hati dan kemampuan. Bahwa ini miss kontradiksi. Penonton langsung mikir. Ini kapan gitunya kok tau tau punya anak, dan penonton langsung ngejudge. Wah ini pasti gara gara di klab pas dia kena kutuk tadi. udah gitu si Sam ini sampe dirumah beberapa hari setelahnya mulai aneh dan gambar2 lambang semen Holcim di lantai kamar anaknya? maksudnya apa?? maksudnya biar anaknya jadi pengusaha semen?




Masuk ke ending yang bisa gue bilang Cuma. Boring.. boring.. boring... kalo diibaratkan lagi ML gue pengen cepet2 orgasme tapi ngga kesampean dan terlanjur loyo. Ending ceritanya udah ketebak sih. Si Sam ini udah hamil gedhe udah bertingkah aneh dan finaly dead pas give a birth buat si baby evil. Karena udah hamil anak setan. Si zach jadi kambing hitam karena dianggap udah bunuh si istri dan ngilangin si jabang bayi.
Ini adalah film nomer dua yang gue nontonnya penuh penyesalan setelah Paranormal activity the marked one. Sepertinya gue udah ga percaya lagi dengan film film model beginian.
Akhir kata. Itu lambang semen Holcim jangan jangan yang punya perusahaan antikristus lagi… kan sama itu lambangnya. hahahaha

Posted on by Unknown | 2 comments